Minggu, 10 Desember 2017

Hubungan Sekolah dengan Masyarakat dalam Upaya Peningkatan Pencitraan Sekolah

Hubungan Sekolah dengan Masyarakat

          Sekolah merupakan lembaga formal yang bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi individu, baik potensi fisik maupun psikis. Public relations atau humas adalah fungsi manajemen yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan bermanfaat antara organisasi dengan publik yang mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi tersebut.
          Hubungan masyarakat pada dasarnya bertujuan menciptakan dan mengembangkan persepsi citra positif sekolah di masyarakat. Menurut Abdurrahman (Suryosubroto,2012:12) bahwa hubungan masyarakat adalah kegiatan untuk menanamkan dan memperoleh pengertian, dukungan, kepercayaan, serta penghargaan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Pentingnya pendidikan menjadikan kerjasama sekolah dengan masyarakat sebagai kebutuhan dasar. Kerjasama tersebut dimaksudkan demi kelancaran pendidikan di sekolah pada umumnya dan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada khusus.
          Seiring perkembangan dunia pendidikan saat ini, persaingan antara sekolah sangat terbuka. Kualitas yang dimiliki setiap lembaga pendidikan dibutuhkan untuk mengembangkan segala hal yang lama menjadi sebuah lembaga pendidikan yang unggul dengan memiliki nilai kualitas tinggi. Lembaga pendidikan wajib untuk bisa membaca sebuah situasi yang nyata dan jelas di setiap waktu dan suasana. Selain itu sekolah juga harus dapat memberi citra yang baik agar dapat menjalin hubungan baik dengan masyarakat. Sehingga sekolah diminati oleh masyarakat.
          Manajemen humas di sekolah mencakup dari segi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan usaha-usaha pencitraan sekolah. semua langkah tersebut perlu dimanajemen dengan baik agar terjadi hubungan yang relevan dan berkesinambungan antara langkah satu dengan langkah yang lain.
          Berdasarkan penelitian, maka dapat dalam perencanaan kegiatan sekolah yang berhubungan dengan humas adalah:
a)   Perencanaan kegiatan sekolah melibatkan humas sekolah dan semua pengelola sekolah
b)   Dalam kegiatan perencanaan lebih detail dan spesifik serta memperhatikan dukungan dan hambatan yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan
c)    Media yang digunakan dalam penyampaian informasi kegiatan sekolah harus terdapat jangka waktu untuk memperbaharui informasi.
Evaluasi hubungan masyarakat dalam upaya peningkatan pencitraan sekolah adalah berupa:
a)   Dilakukan sesuai standart pelayanan sekolah yaitu pelayanan tamu dan pelayanan komplain
b)   Evaluasi dilakukan oleh pihak ekternal sekolah dari tim audit pusat dan pihak internal sekolah secara rutin dalam periode tertentu
c)    Setiap tamu yang datang di minta memberikan feedback untuk masukan kinerja humas.
Usaha-usaha peningkatan hubungan masyarakat dengan sekolah dalam uoaya peningkatan pencitraan di sekolah, antara lain:
a)   Peningkatan penyampaian informasi pada masyarakat
b)   Peningkatan penyampaian informasi dilakukan dengan cara selalu memperbaharui sarana informasi pada masyarakat yang sudah dimiliki sekolah seperti majalah sekolah, website sekolah, maupun media informasi atau sarana informasi lain sehingga masyarakat dapat mengetahui agenda sekolah dalam melakasanakan visi dan misi sekolah.
Sumber:
Harini, Nur Ira. 2014. Manajemen Hubungan Masyarakat dalam Upaya Peningkatan Pencitraan Sekolah.jurnal inspirasi Manajemen Pendidikan, Vol. 4 No. 4


Kamis, 30 November 2017

Tahapan Pengelolaan Peserta Didik


Tahapan dalam Pengelolaan Peserta Didik diantaranya:
1.      Analisis kebutuhan peserta didik. Langkah pertama dalam kegiatan manajemen peserta didik adalah melakukan analisis kebutuhan yaitu penetapan siswa yang dibutuhkan oleh lembaga pendidikan (sekolah).
2.      Rekruitmen peserta didik. Rekruitmen peserta didik di sebuah lembaga pendidikan (sekolah) pada hakekatnya adalah merupakan proses pencarian, menentukan dan menarik pelamar yang mampu untuk menjadi peserta didik di lembaga pendidikan (sekolah) yang bersangkutan.
3.      Seleksi peserta didik. Seleksi peserta didik adalah kegiatan pemilihan calon peserta didik untuk menentukan di terima atau tidaknya calon peserta didik di lembaga pendidikan (sekolah) tersebut berdsarkan ketentuan yang berlaku.
4.      Orientasi peserta didik (siswa baru) adalah kegiatan penerimaan siswa baru dengan mengenalkan situasi dan kondisi lembaga pendidikan (sekolah) tempat peserta didik itu menempuh pendidikan.
5.      Penempatan peserta didik (pembagian kelas). Sebelum peserta didik yang diterima pada sebuah lembaga pendidikan (sekolah) mengikuti proses pembelajaran, terlebih dahulu perlu ditempatkan dan dikelompokkan dalam kelompok belajarnya. Pengelompokkan peserta didik yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah sebagian besar didasarkan kepada sistem kelas.
Menurut Rahmi (2014:532)  pengelompokan peserta didik adalah pengelompokan peserta didik berdasarkan karakteristik-karakteristiknya. Sekolah sebagai satu kesatuan, di dalamnya ada para peserta didik yang mempunyai perbedaan-perbedaan, diantaranya adalah perbedaan usia, perbedaan bakat atau kemampuan dasar, perbedaan minat, perbedaan cara bergaul maupun perbedaan latar belakang sosial, budaya dan ekonomi. Oleh sebab itu, sebagai seorang pengelola peserta didik di suatu lembaga pendidikan harus memperhatikan perbedaan-perbedaan tersebut. Sebab bermacam-macam perbedaan tersebut di atas dimungkinkan dapat ikut mempengaruhi proses pendidikan pada masing-masing peserta didik yang baru berkembang itu.
6.      Pembinaan dan pengembangan peserta didik. Langkah berikutnya dalam manajemen peserta didik adalah melakukan pembinaan dan pengembangan terhadap peserta didik. Menurut Rahmi (2014:532-533) pembinaan peserta didik adalah membina peserta didik sehingga berkembang kemampuannya secara maksimal sesuai dengan tujuan sekolah. Pembinaan peserta didik dilakukan sehingga anak mendapat bermacam-macam pengalaman belajar untuk bekal kehidupannya di masa yang akan datang. Oleh sebab itu, sangat penting bagi sekolah untuk membina mereka agar mereka mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat belajar mereka sehingga diharapkan dapat menciptakan suatu keadaan dimana peserta didik dapat lebih tertib dan lebih mementingkan tugas-tugas belajarnya. Dalam melakukan pembinaan kepada peserta didik ini ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan guru dan sekolah.
7.      Pencatatan dan pelaporan. Pencatatan dan pelaporan tentang peserta didik di sebuah lembaga pendidikan (sekolah) sangat di perlukan.
8.      Kelulusan dan alumni. Proses kelulusan adalah kegiatan paling akhir dari manajemen peserta didik. Kelulusan adalah pernyataan dari lembaga pendidikan (sekolah) tentang telah di selesaikannya program pendidikan  yang harus di ikuti oleh peserta didik.






Referensi :
Blog :
jurnal :
Rahmi, N. 2014. Persepsi       Guru    Tentang           Manajemen     Peserta            Didik   Sekolah            Dasar            Negeri Gugus  Ii          Kecamatan      Lubuk  Sikarah            Kota    Solok. Jurnal Administrasi Pendidikan. Vol. 2. No. 1.


Model Pembelajaran Diskusi

Metode diskusi merupakan suatu metode pengajaran yang mana guru memberi suatu persoalan atau masalah kepada murid, dan para murid diberi kesempatan secara bersama-sama untuk memecahkan masalah itu dengan teman-temannya.Dalam diskusi murid dapat mengemukakan pendapat, menyangkal pendapat orang lain, mengajukan usul-usul, dan mengajukan saran-saran dalam rangka pemecahan masalah yang ditinjau dari berbagai segi.
Metode diskusi sangat cocok diterapkan pada proses belajar mengajar bidang mata pelaaran IPA. Tujuan dari metode diskusi dalam proses belajar mengajar IPA yang diterapkan oleh guru adalah upaya untuk membelajarkan siswa yaitu usaha untuk memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikirnya. Pada umumnya proses belajar mengajar, guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa dan siswa diharapkan dapat memberikan jawaban. Cara guru mengajukan pertanyaan mempunyai pengaruh dalam pencapaian hasil belajar dan peningkatan cara berpikir siswa. Dengan metode tersebut maka secara langsung dapat memberikan suatu dorongan kepada siswa untuk berani berbicara mengemukakan argumentasinya. Seorang guru disekolah yang terampil menggunakan metode diskusi akan selalau mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikir kritis, logis, sistimatis ketaraf yang lebih tinggi dalam belajar (Depdiknas: 2010).
metode diskusi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
         1.      Terdiri dari beberapa orang, bisa lebih dari tiga orang.
         2.      Ada permasalahan yang sedang dicarikan solusi pemecahannya.
         3.      Ada yang menjadi pemimpin.
         4.      Ada proses tukar pendapat atau informasi.
         5.      Menghasilkan rumusan alternatif pemecahan masalah yang sedang dibahas.
Pada penerapan metode diskusi, siswa dihadapkan dengan kegiatan diskusi yang dilakukan beberapa kelompok siswa yang mengacu pada langkah-langkah diskusi yang sesuai dengan materi ajar baik kemudian dari kegiatan diskusi tersebut siswa bertukar pikiran antar sesama teman kelompok ataupun antar kelompok lain dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan dan tanggapan. Dari hasil diskusi tersebut, siswa mengisi LKS yang dibagikan pada masing-masing siswa yang sesuai dengan materi ajar.

Langkah-langkah penggunaan metode diskusi menurut Hasibuan (1985) dan Sastrawijaya (1988)adalah sebagai berikut:
1.   Guru mengemukkan masalah yang akan didiskusikan dan memberikan pengarahan seperlunya mengenai cara-cara pemecahannya.
2.  Para siswa membentuk kelompok-kelompok diskusi memilih pimpinan diskusi (ketua, sekretaris, pelapor) mengatur tempat duduk, ruangan, sarana,dan sebagainya dengan bimbingan guru.Pimpinan diskusi sebaiknya berada di tangan siswa yang :
a)      Lebih memahami masalah yang akan didiskusikan
b)      "Berwibawa" dan disenangi oleh teman-temannya
c)      Lancar berbicara
d)     Dapat bertindak tegas, adil, dan demokratis
Tugas pimpinan diskusi antara lain :
a)      Pengatur dan pengarah diskusi
b)      Pengatur "lalu lintas" pembicaraan
c)      Penengah dan penyimpul berbagai pendapat
3.    Para siswa berdiskusi dalam kelompoknya masing-masng, sedangkan guru berkeliling dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain, menjaga ketertiban, serta memberikan dorongan dan bantuan agar anggota kelompok berpartisipasi aktif dan diskusi dapat berjalan lancar. Setiap siswa hendaknya, mengetahui secara persis apa yang akan didiskusikan dan bagaimana caranya berdiskusi.
4.    Setiap kelompok harus melaporkan hasil diskusinya. Hasil diskusi dilaporkan ditanggapi oleh semua siswa, terutama dari kelompok lain. Guru memberikan ulasan atau penjelasan terhadap laporan tersebut.
5.     Akhirnya siswa mencatat hasil diskusi, sedangkan guru menyimpulkan laporan hasil diskusi dari setiap kelompok.

Jenis-jenis diskusi menurut Hasibuan (1985) yaitu :
1)      Whole group
Kelas merupakan satu kelompok diskusi.Whole group yang ideal apabila jumlah anggota tidak lebih dari 15 orang.
2)      Buzz group
Satu kelompok besar dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, terdiri atas 4-5 orang.Tempat diatur agar siswa dapat berhadapan muka dan bertukar pikiran dengan mudah.Diskusi diadakan di tengah pelajaran atau di akhir pelajaran dengan maksud menajamkan kerangka bahan pelajaran, memperjelas bahan pelajaran atau menjawab pertanyaan-pertanyaan.Hasil belajar yang diharapkan ialah agar segenap individu membandingkan persepsinya yang mungkin berbeda-beda tentang bahan pelajaran, membandingkan interpretasi dan informasi yang diperoleh masing-masing.Dengan demikian masing-masing individu dapat saling memperbaiki pengertian, persepsi, informasi, interpretasi sehingga dapat dihindarkan kekeliruan-kekeliruan.
3)      Panel
Suatu kelompok kecil, biasanya3-6 orang, mendiskusikan satu subjek tertentu, duduk dalam suatu susunan semi melingkar, dipimpin oleh seorang moderator.Panel ini secara fisik dapat berhadapan dengan audience, dapat juga secara tidak langsung (misalnya panel di televisi).Pada suatu panel yang murni, audience tidak ikut serta dalam diskusi.
4)      Syndicate group
Suatu kelompok (kelas) dibagi menjadi beberapa kelompok klecil terdiri dari 3-6 orang.Masing-masing kelompok kecil melaksanakan tugas tertentu. Guru menjelaskan garis besarnya problema kepada kelas:ia menggambarkan aspek-aspek masalah, kemudian tiap-tiap kelompok (syndicate) diberi tugas untuk mempelajari suatu aspek tertentu. Guru menyediakan referensi atau sumber-sumber informasi lain.Setiap sindikat bersidang sendiri-sendiri atau membaca bahan, berdiskusi, dan menyusun laporan yang berupa kesimpulan sindikat.Tiap laporan dibawa ke sidang pleno untuk didiskusikan lebih lanjut.
5)      Brain Storming group
Kelompok menyumbangkan ide-ide baru tanpa dinilai segera.Setiap anggota kelompok mengeluarkan pendapatnya. Hasil belajar yang diharapkan ialah agar anggota kelompok belajar menghargai pendapat orang lain, menumbuhkan rasa percaya pada diri sendiri dalam mengembangkan ide-ide yang ditemukannya yang dianggap benar.
6)      Simposium
Beberapa orang membahas tentang berbnagai aspek dari suatu subjek tertentu, dan membacakan di muka peserta symposium secara singkat (5-20 menit).Kemudian diikuti dengan sanggahan dan pertanyaan dari para penyanggah, dan juga dari pendengar.Bahasan dan sanggahan itu selanjutnya dirumuskan oleh panitia perumus sebagai hasil simposium.
7)      Informal debate
Kelas dibagi menjadi dua tim yang agak sama besarnya, dan mendiskusikan subjek yang cocok untuk diperdebatkan tanpa memperhatikan peraturan perdebatan normal. Bahan yang cocok untuk diperdebatkan ialah yang bersifat problematic, bukan yang bersifat aktual.
8)      Colloquium
Seseorang atau beberapa orang manusia sumber menjawab pertanyaan dari audience. Dalam kegiatan belajar mengajar, siswa atau mahasiswa menginterviu manusia sumber, selanjutnya mengundang pertanyaan lain atau tambahan dari siswa atau mahasiswa lain. Hasil belajar yang diharapkan ialah para siswa atau mahasiswa akan memperoleh pengetahuan dari tangan pertama.
9)      Fish bowl
Beberapa orang peserta dipimpin oleh seorang ketua mengadakan suatu diskusi untuk mengambil suatu keputusan.Tempat duduk diatur merupakan setengah lingkaran dengan dua atau tiga kursi kosong menghadap peserta diskusi.Kelompok pendengar duduk mengelilingi kelompok diskusi, seolah-olah melihat ikan yang berada dalam sebuah mangkuk (fish bowl).
Sedang kelompok diskusi berdiskusi, kelompok pendengar yang ingin menyumbangkan pikiran dapat masuk duduk di kursi kosong. Apabila ketua diskusi mempersilakan berbicara, ia dapat langsung berbicara, dan meninggalkan kursi setelah selesai berbicara.

Kelebihan metode diskusi adalah:
1.  Merangsang kreativitas siswa dalam bentuk ide, gagasan – prakarsa, dan terobosan baru dalam pemecahan suatu masalah.
2.      Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain
3.      Memperluas wawasan
4.      Membina untuk terbiasa musyawarah untuk memperkuat dalam memecahkan masalah
Kekurangan metode diskusi adalah:
1.      Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar.
2.      Pembicaraan terkadang menyimpang, sehingga memerlukan waktu yang panjang.

3.      Mungkin dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara atau ingin menonjolkan diri.









Referensi
Jurnal : 
Depdiknas. 2010. Mutu Pendidikan. Depertemen Pendidikan  dan Kebudayaan. Jakarta